I. PENDAHULUAN
Merupakan
kehormatan bagi saya diundang memberikan kontribusi dalam Jurnal
Teologi Pentakosta, walaupun saya tidak berpretensi memiliki kapasitas
teolog dalam konteks ilmuwan.
Keberanian
saya memenuhi undangan ini karena sebagai hamba Tuhan, seorang gembala
sidang jemaat, sebagai pengajar Alkitab, saya adalah seorang praktisi
teologi Alkitabiah. Teologi saya adalah teologi aplikatif, teologi
terapan.
Belajar Alkitab adalah way of life dan menjadi prioritas pelayanan saya.
Seperti dikatakan Pastor W.H. Offiler, dalam bukunya “God and His Bible of the Harmonies of Divine Revelation” yang menjadi acuan utama doktrin Pentakosta di GPdI dan gereja-gereja Pentakosta lainnya di Indonesia :
The
study of the Bible, as the word of God, is fascinating in the highest
degree, and I have tried to put first, because they have filled the
first place in my own mind, and heart. It has been a joyous and inspiring experience through out the years.”
Sebagai
seorang pendeta Pentakosta, saya sering ditanya apakah teologi
gereja-gereja Pentakosta itu berbeda dari telogi-teologi lainnya? Pada
dasarnya teologi Pentakosta itu tidaklah berbeda dari teologi Kristiani
pada umumnya. Di kalangan gereja-gereja Pentakosta belajar teologi
Alkitabiah yang benar adalah pertama sekali sebagai satu keyakinan, baru
kemudian sebagai suatu disiplin dan sistem. Kita memahami teologi
secara integratif, komprehensif, praktis dan dinamis.
Teologi
gereja-gereja Pentakosta dipelajari, dimengerti dan diaplikasikan,
sehingga teologi yang dipelajari harus dibuktikan dalam penerapan di
pelayanan.
Karena
itu, kita perlu mengandalkan Roh Kudus, sang Inspirator Agung, yang
mengarahkan kita berteologi yang benar dan menjadi berkat bagi banyak
orang.
Tulisan ini merupakan sharing atau berbagi pengalaman tentang prinsip belajar teologi di kalangan umat Kristen Pentakosta dan Kharismatik.
II. PERSEPSI TEOLOGI YANG LUAS
Teologi atau theologia berasal dari theos dan logos
yang bermakna “Allah” dan “kata” atau perkataan. Pengertian singkat
teologi sudah terungkap dari etimologinya : “firman Allah” atau
“pembicaraan tentang Allah”. Juga disebut “studi Allah” dan “ilmu
pengetahuan Allah”. Jadi, teologi adalah hal-hal yang berhubungan dengan KeTuhanan.
Namun, dalam perkembangannya teologi memiliki beraneka ragam defenisi, apalagi kata logos telah berkembang artinya sebagai ilmu atau pernyataan rasional, sedangkan theos pun
sudah bermakna iman Ketuhanan. Sehingga berbicara tentang teologi, para
teolog berhasil meluaskan jangkauan pengertiannya, walaupun tetap ada
keterbatasan atau kekhususannya. Untuk bandingan saya angkat beberapa
kutipan tentang keragaman defenisi teologi dari beberapa penulis buku
tentang teologi.
Millerd Erickson dalam bukunya “Christian Theology” setebal 1300 halaman membuat summary tentang apa itu teologi hanya dalam satu alinea :
“Theology
in a Christian context is a discipline of study that seeks to
understand the God revealed in the Bible and to provide a Christian
understanding or reality. It seeks to understand God’s creation,
particularly human beings and their condition, and God’s redemptive work
in relation to humankind. Biblical, historical, and philosophical
theology provide insights and understandings that help lead toward a
coherent whole. Theology has practical value in providing guidance for
the Christian life and ministry.”
Kevin Conner dalam bukunya “The Foundations of Christian Doctrine” memberi defenisi lebih singkat lagi :
“Theology means the study of God, of religions doctrines and of matters pertaining to Divinity.”
J. Rodman Williams dalam “Renewal Theology” mengusulkan defenisi teologi yang sedikit berbeda :
“The contents of the Christian faith as set forth in orderly exposition by the Christian Community.”
Lain lagi ungkapan Stanley J. Grenz dalam “Theology for the Community of God”, ia menulis :
“Theology
is primarily the articulation of a specific religious belief system
itself (doctrine). But it also well personal and community life”
Semakin
banyak kita mengutip, semakin ramai dan luas batasan-batasan teologi.
Karena itu saya cenderung menyederhanakan teologi yaitu suatu usaha
BELAJAR TENTANG ALLAH DALAM FIRMANNYA.
Pada
masa lalu, dengan maraknya teologi liberal, muncul ketidak-percayaan
yang mendalam di dalam subkultur Kristen terhadap teologi. Orang tidak
percaya lagi para teolog. Khususnya orang-orang Pantekosta. Kaum pentecostals
menganggap mayoritas kaum teolog justru menyebabkan gereja kering tak
bersemangat, tidak beriman dan menjadi lemah karena para pendeta yang
lulusan seminari teologi justru tidak bertobat, tidak lahir baru, tidak
diterangi Roh Kudus dan akhirnya cara mereka menafsirkan Alkitab
cenderung menyesatkan gereja.
Walter Hollenweger dalam bukunya ”The Pentecostals” mengutip bukunya Thomas Wyatt “The Birth and Growth of World-Wide Ministry”, sebagai berikut :
“It
is most a well known fact that the vast majority of the theologians who
preach in the pulpits of the established church have experienced
neither conversion, far less biblical sanctification or endowment by the
Holy Spirit.”
Walter
Hollenweger juga mengakui pendeta-pendeta Pantekosta banyak yang tidak
mengikuti seminari teologi tetapi memiliki iman yang hidup kepada Yesus
Kristus :
“But
the Pentecostal movement consists of people who have mostly been
brought by pastors without theologial training, in the course of
missions, to have a living faith in Jesus Christ, and have experienced a
decisive converstion (repentance) and the ensuing regeneration (John
3).”
Langmead Casserly, seorang apologis Anglican, dalam bukunya “Apologetics & Evangelism”
mengamati bahwa alasan umat Kristen menjadi semakin tidak percaya
kepada teolog-teolog adalah karena mereka memperlihatkan pandangan
skeptikisme radikal pada Alkitab dan fakta sejarah kekristenan. Para
teolog, menurutnya telah mendeklarasikan kematian Allah. Para dosen
seminari dan dosen-dosen Kristen di universitas-universitas malah paling
vokal menyerang keabsahan Alkitab.
Sehingga
dapat dimengerti mengapa banyak kaum Pantekosta merasa risih dengan
teologi, karena ulah kaum teolog liberal, radikal, atau yang menamakan
diri teolog modern atau semacamnya, yang telah mencemarkan teologi.
Untuk
mengembalikan teologi kepada jalur sebenarnya dan memurnikan kembali
teologi yang sudah rancu dengan faham liberalisme, rasionalisme,
skeptikisme, sekularisme, dan lain-lain, metoda satu-satunya ialah
memulihkan pendidikan teologi Kristen yang murni Alkitabiah dan yang
memiliki kuasa (dunamis) Roh Kudus.
Apabila
kita mengakui bahwa teologi adalah studi tentang Allah, kita paham
betul bahwa Allah adalah Roh. (Yohanes 4:24). Karena itu mempelajari
Allah kita memerlukan Roh Kudus. Tanpa dikuasai Roh kita tidak dapat
memahami teologi yang benar.
“Karena
kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki
segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.”
(1 Korintus 2:10).
Ilmu tentang Allah (teologi) apalagi ilmu yang dalam, yang tersembunyi, hanya dapat dipelajari kalau kita memiliki Roh Tuhan.
III. TEOLOGI PENTAKOSTA = TEOLOGI ALKITABIAH TERAPAN
Adakah suatu teologi Pentakosta? Pertanyaan ini sering diketengahkan.
Tahun-tahun
yang lalu ketika saya masih Ketua Umum PGPI, beberapa kali hadir dalam
pertemuan Pantekosta-Internasional dan juga di Pentecostal World Conference. Dalam
banyak pertemuan gerakan Pentakosta tersebut tidak pernah diciptakan
suatu jenis teologi Pentakosta. Namun saya amati, bahwa semua
gereja-gereja aliran Pentakosta atau Kharismatik memiliki teologi yang
bertajuk : Back to the Bible. Kembali kepada ajaran murni
Alkitab. Ajaran tentang Tuhan Yesus Kristus satu-satunya Penyelamat umat
manusia, Pembaptis dengan Roh Kudus, Penyembuh segala penyakit dan yang
akan datang kembali sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan atas
segala tuan.
Kembali
kepada ajaran murni Alkitab berarti kita kembali kepada ajaran tentang
pertobatan atau lahir kembali, ajaran baptisan dalam air, kepenuhan Roh
Kudus dengan bukti berkata-kata dengan bahasa lidah, tentang kesembuhan
Allahi dan kelepasan dari kuasa iblis, tentang kehidupan kudus,
kehidupan iman, tentang pekabaran injil, tentang keselamatan hanya oleh
penebusan darah Kristus, tentang pentingnya perkumpulan ibadah, tentang
pujian dan penyembahan, tentang kedatangan Yesus keduakali, tentang
membayar persepuluhan, tentang gereja mempelai Kristus, tentang
karunia-karunia Roh Kudus, dll. yang kesemuanya bukanlah teologi baru
tetapi sekali lagi itu adalah back to the Bible.
Apabila
kita belajar teologi dalam kerangka disiplin ilmu kita tentu akan
belajar tentang soteriologi, eskatologi, misiologi, sejarah gereja, dan
banyak logi-logi lagi. Namun, teologi menurut pemahaman saya harus
mencakup 7 prinsip mendasar, yaitu :
1. Teologi harus Alkitabiah.
Yaitu teologi yang sumber utamanya adalah kanonik skriptura Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru. Tidak boleh ditambah atau dikurangi. (Wahyu
22:18-19).
2. Teologi yang diterangi Roh Kudus. Studi
teologi memerlukan iluminasi Roh Kudus. Alkitab pertama-tama adalah
buku spiritual, karena ditulis atas inspirasi Roh Kudus. Karena itu,
perkara rohani harus diartikan secara rohani pula. (1 Korintus 2:7-16).
3. Teologi yang sistematika. Pokok-pokok yang variabel diambil dari seluruh Alkitab direlasikan satu dengan yang lainnya membentuk keutuhan yang harmonis.
4. Teologi juga dengan isu-isu budaya umum dan pendidikan. Termasuk masalah sosial, kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan filsafat sejarah.
5. Teologi harus kontekstual dan kontemporer. Kendati
teologi berhubungan hal-hal yang abadi, namun harus digunakan dalam
bahasa, konsep-konsep, format pikiran yang konteksnya masa kini.
6. Teologi harus menjadi ilmu yang diaplikasikan. Berarti
teologi harus menjadi aktual, implementatif. Teologi harus peduli
dengan dimensi-dimensi praktis, walaupun juga bukan teologi tentang
hal-hal teknis. Teologi orang-orang Pentakosta ialah applied theology.
7. Teologi harus dipelajari dengan pembaharuan daya nalar.
Mempelajari teologi sekedar dengan kemampuan akal, dapat membosankan
dan kalau menjadi jenuh, akan tidak efektif. Belajar teologi harus
terlebih dulu mengalami proses pembaharuan daya nalar atau pikiran.
(Roma 12:2).
IV. TEOLOGI YANG “DUNAMIS” = TEOLOGI YANG DIGERAKKAN KUASA ROH KUDUS
Teologi Alkitabiah harus menjadi teologi yang “dunamis”. Dunamis bermakna : kuasa, kekuatan, kesanggupan dan daya luar biasa. Rasul Paulus berkata :
“Baik
perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata
hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,
supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi kepada
kekuatan Allah.” (1 Korintus 2:4,5).
Belajar
teologi kita mendapat ilmu, mendapat pengetahuan, mendapat hikmat.
Mengapa di kalangan Pantekosta teolog tidak begitu populer? Karena
ternyata sekedar memiliki teologi dan menyandang gelar kesarjanaan
teolog, sering membuat orang itu arogan tapi mandul pelayanan. Memiliki
gelar sarjana teologi dan berkhotbah dengan istilah-istilah keren, namun
jemaat mengantuk mendengarnya. Pandai berdebat, tetapi tidak mampu
memenangkan jiwa-jiwa. Mengetahui berbagai dimensi ketuhanan, tetapi gagal mengusir iblis. Sanggup banyak baca buku, namun malas berdoa dan berpuasa.
Karena
itu, kita harus kembali ke proses belajar teologi yang benar, agar
teologi digemari dan digrandrungi. Teologi Pentakosta harus bukan
sekedar teologi ilmu Alkitab, tetapi lebih dari itu harus dapat
dipelajari sebagai suatu teologi Alkitabiah yang hidup, yang penuh
kuasa, yang dunamis. Suatu teologi yang mendapat pengurapan Roh Kudus.
Suatu teologi terapan yang bersemangat.
Orang-orang Pantekosta musti belajar teologi dari dosen-dosen yang mengetahui dan
meyakini teologi sebagai sesuatu ilmu Allahi dan yang penuh dengan Roh
Kudus. Seperti apa yang dipraktekkan di sekolah-sekolah Alkitab
Pantekosta, pengajar dan siswa harus bergumul dalam doa dan bahkan
berpuasa. Para dosen dan mahasiswa harus terus berdoa agar baik dalam
memberi kuliah maupun yang ketika menerima pelajaran berada dalam alam
penerangan Roh Kudus. Kalau hanya sekedar belajar teologi, dewasa ini
STT-STT menjamur. Orang yang memiliki gelar-gelar teologi makin banyak.
Bahkan ada lembaga pendidikan teologi yang ”murah-meriah” memberikan
gelar.
Tetapi memahami teologi dunamis berarti belajar teologi Alkitabiah yang berdinamika spiritual sekaligus berdimensi intelektual.
Para
teolog gerakan Pentakosta harus lebih pro-aktif memberi kesaksian bahwa
teologi Alkitabiah kita adalah teologi terapan yang hidup, yang
spiritualistis, yang dapat mempengaruhi pendidikan teologi yang suam
untuk bangkit dan hidup. Seperti ditulis oleh pakar peneliti
kepentakostaan Walter J. Hollenweger dalam bukunya yang tebal “Pentecostalism, Origins and Developments World Wide”, sbb :
“Since
Pentecostalism is now at a turning point, it can release its potential
in several areas. For example, it can help the sleepy
theological-facultaties and theological colleges (particularly in
Europe) once again to become places where religion is not only discussed
but lived and analyzed, where thinking and prayer are complementary;
where oral theological scholarship and homeletics is discovered and
tested; where the prison of prepositional theology (and liturgy) and of
Western jargon is broken up:...”
V. LONJAKAN IPTEK HARUS DIBARENGI LIMPAHAN ILUMINASI ALKITAB
Kita
sudah berada di awal abad XXI. Pada akhir abad yang lalu dunia
mengalami lompatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa.
Dengan super highway information melalui internet, kita sekarang berada dalam kehidupan lompatan teknologi yang dijuluki cyberspace.
Lompatan
teknologi akhir abad XX dapat dilihat dengan keberhasilan roket
mendarat di planet Mars dan pengkloningan domba di Skotlandia. Sehingga
ada ilmuwan yang sudah berani berkata :
“Today a lamb, tommorrow the shepherd”
Kalau
dunia iptek telah mendemonstrasikan kemajuannya yang dahsyat, bagaimana
dengan ilmu yang menelaah tentang Allah dan FirmanNya, tentang Kasih
dan KuasaNya?.
Sebagian teologi gereja-gereja Pantekosta berbasis pada bukunya W.H. Offiler : “God And His Bible or The Harmonies of Divine Relevation” yang
dicetak pada tahun 1946, tetapi sudah diajarkan sejak Sekolah Alkitab
di Surabaya tahun 1935. Dalam bukunya itu kita dapat mempelajari hasil
iluminasi Roh Kudus yang membuahkan terungkapnya rahasia-rahasia Alkitab
yang berjumlah sekitar 90 pokok pelajaran, antara lain : Peta Zaman,
Penyingkiran Gereja, 144.000, Minggunya Tuhan, Kedatangan Tuhan Yesus
Kedua Kali, Rahasia Besar dan banyak lagi.
Luar
biasa iluminasi yang diperoleh Pastor W.H. Offiler. Tetapi tahukan
berapa tahun ia bergumul mempelajari Alkitab dengan doa puasa? Saya kutip pengakuan beliau dalam kata pengantar buku tersebut.
“The
following course of Bible Study is the result of almost fifty years of
deep, intense study of the Bible. It is the result not only of much
meditation and holy thought, but of fasting and prayer, in waiting on
God”.
Bukunya
itu luar biasa! Suatu hasil dari studi Alkitab hampir limapuluh tahun
dengan doa puasa serta berdiam diri menunggu Tuhan.
Kita
juga mengenal nama-nama seperti W.W. Peterson, F.G. Van Gessel, Kevin
Conner, dll yang merupakan sosok-sosok yang Tuhan karuniakan iluminasi
yang luar biasa tentang rahasia Alkitab.
Bagaimana
dengan kita sekarang. Ada orang-orang yang cuma belajar teologi
beberapa bulan, sudah mengaku terima pewahyuan dari Allah. Atau baru
kuliah off-campus beberapa minggu sudah membanggakan gelar kesarjanaannya yang dibayar dengan uang, bukan melalui proses belajar yang sungguh.
Kita
berharap agar para pendeta Pentakosta memohon iluminasi (penerangan)
Rahasia Alkitab yang berlimpah pada zaman ini. Apabila puluhan tahun
lalu Roh Kudus mengaruniakan penerangan Alkitab yang luar biasa kepada
Pendeta Offiler, Pendeta van Gessel, dll, atau pada para pendeta di
Amerika saja, bagaimana di Indonesia? Apakah Tuhan hanya menerangi luar
biasa pada masa lalu? Saya yakin Roh Kudus justru berkarya luar biasa
dahsyat zaman ini.
Kalau
Tuhan izinkan terjadi lompatan iptek yang dahsyat pada zaman ini, saya
percaya Tuhan juga akan membukakan tirai-tirai rahasia dari rencana
Allah bagi gerejanya di zaman ini. Namun harganya harus berani kita
membayarnya seperti pengalaman pastor W.H. Offiler.
Karena
itu sungguh indah apabila kita belajar teologi secara benar sekarang.
Waktu-waktu ini saya yakin akan terjadi lonjakan dahsyat pengetahuan
tentang rahasia Allah oleh iluminasi Roh Kudus yang berkarya ajaib dua
atau tiga kali ganda di zaman ini.
Karena
itu, sangat memalukan kalau ada hamba Tuhan Pantekosta hanya belajar
teologi beberapa bulan lalu bangga sekali dengan predikat sarjana,
master atau doktor., padahal kalau dia berbicara, berkhotbah atau
mengajar, orang menilai biasa-biasa saja. Padahal Teologi Alkitabiah
justru sesuatu yang luar biasa!
VI. PELAJAR TEOLOGI SEUMUR HIDUP
Belajar
Teologi Alkitabiah bukanlah sekedar belajar suatu disiplin Ilmu, atau
belajar sekedar teologi Biblika, tetapi lebih dari itu kita belajar dari
”Ilmu Tuhan”, belajar dari ”Buku Allah”, tetapi lebih dari itu lagi
kita sebenarnya sedang belajar dari ”Pribadi Allah”. Dari pikiranNya,
rencanaNya, karyaNya, hidupNya, karakterNya, kuasaNya, keberadaanNya,
dan banyak lagi. Dan ”Pribadi Allah” adalah sesuatu yang tak terbatas
oleh ruang dan waktu. Tuhan itu mahabesar, mahakuasa, mahahadir, dan
mahatahu. Tuhan adalah satu-satunya unsur yang mahasempurna di alam
semesta raya ini.
Belajar
Teologi jauh berbeda dari proses belajar yang lazim kita kenal. Kita
bukan sekedar mempelajari, kita mengenal pribadi Allah, bergaul,
berdialog dan hidup intim dengan Dia.
Belajar
Teologi adalah proses belajar sekaligus penerapannya seumur hidup. Kita
bukan saja serius belajar tetapi yang lebih penting lagi;
sungguh-sungguh menerapkannya dalam seluruh dimensi hidup kita dan di
sepanjang umur hidup kita.
Seorang
insinyur bisa tetap menyandang gelar keinsinyurannya walaupun
sehari-hari berpraktik sebagai seorang pebisnis. Seorang dokter bisa
tetap memakai gelar dokternya, kendati pekerjaannya bukan dengan pasien
yang sakit. Saya mengenal beberapa tamatan akademik yang akhirnya
menjadi sales-man, dll. Tetapi tidak demikian bagi lulusan Sekolah Alkitab dan Seminari Teologi di kalangan Kristen Pantekosta.
Seorang
teolog, harus seumur hidup menjadi teolog dan terus menerus menerapkan
apa yang dipelajarinya dalam hidupnya, dalam keluarganya, dalam
pelayanannya, dalam pekerjaannya, dalam semua facet kepribadiannya dan aktivitasnya.
Sekali
kita belajar Alkitab, kita akan terus belajar mengenal Allah, mengenal
Yesus, mengenal Roh Kudus. Dan pelajarannya seperti tidak akan pernah
berakhir, sampai seperti kata Rasul Paulus :
”Sekarang
aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan
mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” (I Korintus
13:12b)
VII. PENUTUP
Studi
teologi atau belajar Alkitab adalah sesuatu yang luhur, ajaib, indah
dan suci. Apapun kerangka acuannya, sistematikanya, metodanya, Alkitab
adalah Alkitab, Buku yang agung, kudus, hidup dan kekal, kitab yang
adalah firman Allah. Suatu kehormatan bila Tuhan memberi kita kesempatan
mempelajarinya, dan berbagi kepada orang lain apa yang telah kita
pelajari.
Teologi
apapun rumusannya, sepanjang ia berada dalam konteks Alkitab firman
Allah, ia adalah ilmu yang layak dan wajib dipelajari. Sepanjang ia
adalah teologi yang Alkitabiah, yang Biblical, ia harus menjadi teologi
terapan yang powerful, yang dapat menghasilkan perubahan-perubahan
signifikan pada orang yang percaya bahkan menciptakan mujizat-mujizat.
Pada
akhirnya saya kembali mengutip Pastor W.H. Offiler dalam bukunya “God
and His Bible or the Harmonies of Divine Revelation” :
“The age draws to its close, the ‘Time of the End’ is upon us. If ever we needed to know and understand the Word of God, it is NOW.
The consumation is at hand, the Book must be opened, as its seals are broken.
The
church must know the eternal truth that bas been written, as its
fulfilments burst upon us. The time is at hand, Study the Word of God”.
Dewasa
ini kita hidup dan melayani di suatu zaman mutakhir yang luar biasa.
Ilmu Pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat sekali,
mempesonakan. Perubahan dengan gelombang-gelombang yang cepat menerpa
planet bumi ini dengan cara-cara memukau.
Alkitab
juga sedang dalam tahapan penggenapannya yang akhir dan sempurna, serta
sangat menakjubkan. Puji Tuhan! Karena itu saya mendorong kita semua :
Teruskan studi Firman Allah, karena seluruh penggenapannya sudah di
ambang pintu. Dan sebagai orang-orang Pentakosta dan Kharismatik kita
buktikan bahwa teologi yang kita pelajari bukanlah suatu ilmu biasa,
tetapi suatu teologi yang berkemampuan mengubah manusia, yang berkuasa
mentransformasi suatu komunitas, teologi yang sanggup mengubah nasib
suatu bangsa bahkan teologi yang sangat mampu mengaruniakan keselamatan
kepada umat manusia.
KEPUSTAKAAN :
1. Millard, J. Erickson, “Christian Theology”, Baker Books, 1985.
2. J. Rodman Williams, “Renewal Theology”, Academic Books, 1988.
3. Stanley J. Grenz, “Theology for the Community of God”, The Patternoster Press, 1994.
4. Kevin J. Conner, “The Foundations of Christian Doctrine”, Acacia Press Pty, Blackburn Victoria, 1980
5. Kevin J. Conner & Ken Malmin, “Interpreting The Scriptures”, Bible Press, Portland 1983.
6. Walter J. Hollenweger, “Pentecostals”, Hendrickson Publisher, 1997.
7. Walter J. Hollenweger, “Pentecostalism Origins and Developments World Wide”, Hendrickson Publisher, 1997
8. W.H. Offiler, “God and His Bible or The Harmonies of Divine Revelation”. Bethel Temple Inc. Seattle, Wash, 1946.
9. J.V. Langmead Casserly, “Apologetics & Evangelism”, Westmenster, Louisville, 1970.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar