Sabtu, 17 November 2012

Peperangan Rohani dalam Pelayanan Penginjilan


I.       MENGENAL MUSUH

Alkitab menjelaskan dengan pasti dan tegas bahwa gereja atau orang-orang percaya memiliki musuh.
Musuh itu bukanlah manusia atau suatu komunitas, tetapi Iblis. (I Petrus 5:8, Yakobus 4:7).
Iblis harus dilawan, diperangi, diusir dan dikalahkan.
Namun Iblis licik dan banyak muslihat (Efesus 6:8), karena itu kita jangan memberi peluang bagi Iblis (Efesus 4:27).
Kita harus mengetahui siasat Iblis. (2 Korintus 2:11).
Gereja berada dalam status perang terhadap Iblis. Oleh sebab itu kita harus faham seluk beluk taktik dan strategi Iblis, musuh kita.
A.  IBLIS MEMILIKI HIRARKI DAN RANGKING OTORITAS
Efesus 6:12. Ayat ini menguraikan 4 aras otoritas Iblis
yaitu :   1. pemerintah-pemerintah
            2. penguasa-penguasa
            3. penghulu-penghulu dunia gelap
            4. roh-roh jahat di udara.

B.  IBLIS MEMPUNYAI TERITORI (WILAYAH) KEKUASAAN
Selain memiliki aras-aras atau level kekuasaan, Iblis mempunyai wilayah-wilayah kekuasaan dengan penguasanya.
Daniel 10:13-20. Ada pemimpin kerajaan Persia, ada pemimpin orang Yunani.
Suatu otoritas yang mempengaruhi bangsa-bangsa dan negara-negara.
Matius 12:24-45, Markus 5:2-9.
Wahyu 2:13 – Kota Pergamus merupakan markas besar Iblis. Kota-kota dan desa-desa juga menjadi tempat Iblis beroperasi.

C.  IBLIS MEMILIKI STRATEGI “KETIDAK BENARAN”
Strategi Iblis, apapun taktik, kemasan, bentuk dan labelnya, intinya atau isinya adalah ketidak benaran, pemalsuan fakta, penipuan dan kebohongan.
Perhatikan : Kejadian 3:1-5, Matius 4:3-10.
Strategi Iblis yang licik dalam memanipulasi tujuan akhirnya adalah : mencuri, membunuh dan membinasakan.(Yohanes 10:10)
Karena kita tidak boleh terperdaya, dengan apapun kemasannya Iblis selalu dan selalu adalah bapa segala dusta. (Yohanes 8:44).
Perhatikan kemampuan sandiwara Iblis, karena ia dapat berperan sebagai domba, malaikat terang, dan mahluk sangat cerdik, padahal ia adalah monster yang buas dan sadis.


II.      MEDAN PEPERANGAN ROHANI

Francis Frangipane dalam bukunya berjudul “The Three Battlegrounds” (Tiga Medan Perang) menguraikan bahwa medan peperangan rohani terdiri dari tiga jenis :
1.     Medan perang Pikiran
2.     Medan perang Gereja
3.     Medan perang Tempat-tempat sorgawi

Dalam medan perang Pikiran kita harus sadar bahwa wilayah kekuasaan Iblis adalah alam kegelapan. Pikiran kita adalah tempat selalu diincar oleh Iblis untuk dikuasai. (Markus 7:21).
Medan pikiran penting, karena  pikiran kita sangat berkuasa. (Amsal 23:7).
Semua bermula di pikiran. Dalam penginjilan, kita membawa pedang firman Allah menaklukkan pikiran manusia kepada Kristus.
Pertobatan adalah pembaharuan pikiran. (Roma 12:1).  
Menurut Francis, kubu atau benteng pertahanan manusia untuk melawan Injil bersumber dari tiga  hal:     -    Kubu I   = Dunia
-        Kubu II  = Pengalaman-pengalaman kita
-        Kubu III = Doktrin-doktrin yang salah


Sumber pertama adalah dunia di mana kita dilahirkan.
Arus yang deras dari berbagai informasi dan pengalaman yang secara terus menerus membentuk persepsi kita sejak kanak-kanak adalah sumber terbesar dari kubu pertahanan Iblis dalam diri kita.
Ketiadaan kasih dalam keluarga, dalam lingkungan budaya kita, tekanan-tekanan dan perubahan-perubahan nilai yang selalu membingungkan dan mengkuatirkan, semuanya berkombinasi membentuk identitas pandangan hidup kita.
Pengaruh keduniawian semakin dominan karena pengaruh film, televisi, komputer, internet, dll.
Sumber kedua, ialah pembentukan benteng yang terbangun oleh pengalaman-pengalaman dan konklusi logika yang kita pegang. Percaya diri akibat pengalaman, sering menolak kepercayaan dan ketergantungan total kepada Kristus.
Sumber ketiga, ialah doktrin-doktrin dan pengajaran-pengajaran yang keliru dan palsu. Kita harus berpegang kepada kemurnian pengajaran Alkitabiah, bukan kepada interpretasi yang salah atau pada fanatisme individu.


III.     MERUNTUHKAN BENTENG-BENTENG

Suatu pandangan lain tentang kubu-kubu atau benteng-benteng pertahanan Iblis, saya petik  dari bukunya Gary Kinnaman “Overcoming the Dominion of Darkness” yang memberikan defenisi bagus tentang tiga tipe perbentengan :
1.   Benteng-benteng teritorial : Gambaran hirarkhi dan aras (level) mahluk-mahluk kegelapan yang mendapat tugas strategis dari setan untuk mengontrol bangsa-bangsa, komunitas masyarakat dan keluarga-keluarga. Pasukan demonik (roh-roh jahat) tertentu menyerbu ke berbagai wilayah-wilayah untuk membentengi jenis-jenis kejahatan khusus.
Kota-kota tertentu menjadi benteng-benteng penyembahan berhala, dosa sensual atau jenis-jenis tertentu dari roh-roh agamawi.

2.   Benteng-benteng Ideologis : Kekuasaan setan yang berpengaruh kuat kepada suatu pandangan atau filsafat hidup yang mempengaruhi kebudayaan dan masyarakat. Misalnya Teori Charles Darwin tentang seleksi alamiah, Karl Marx dengan faham komunisme. Atau the New Age Movement yang digandrungi kaum intelektual liberal maupun adat istiadat yang dianut oleh masyarakat primordial. 

3.   Benteng-benteng Pribadi : Suatu hal yang setan bangun untuk mempengaruhi pribadi manusia, menjadi dosa pribadi yaitu dalam pikiran-pikiran, dalam perasaan-perasaan, dalam sikap-sikap manusia dan pola-pola perilaku.

Benteng-benteng merupakan tempat-tempat perlindungan dibangun oleh setan dalam diri manusia, dalam pikiran manusia.
Kita harus perangi, kita harus tawan dan kita harus taklukkan kepada Kristus. (2 Korintus 10:4-5).

IV.    TARGET IBLIS : PARA GEMBALA SIDANG, PENGINJIL DAN KELUARGANYA

Dr. Peter Wagner dalam bukunya “Warfare Prayer” menguraikan 3 tingkat peperangan rohani :
1.     Peperangan Rohani Tingkat Dasar            : Melawan ikatan-ikatan dosa yang memerlukan
                                                                      pelayanan pelepasan.
2.     Peperangan Rohani Tingkat Okultisme       : Melawan para praktisi okultisme, kemistikan,
  kebatinan, pelaku kegaiban, pedukunan, dan 
  sejenisnya.
3.     Peperangan Rohani Tingkat Strategis        : Melawan penguasa teritorial, penghulu alam
                                                                       kegelapan, pejabat tinggi kerajaan gelap.
Dalam perang tingkat strategis, Iblis menggunakan kekuatan dan senjatanya yang strategis pula. Targetnya : para gembala sidang, para penginjil dan keluarganya.
Banyak keluarga hamba Tuhan kacau balau. Sang pendeta atau penginjil terjerat skandal seks atau keuangan. Anak-anaknya terlibat narkoba atau tindakan kriminal.
Ada rumah tangga hamba Tuhan pecah berantakan. Perkawinan yang kocar-kacir. Di negara maju ada beberapa penginjil terkenal bangkrut dan terlilit hutang besar. Betapa tragisnya, pendeta yang selalu beritakan berkat, kesejahteraan dan kelimpahan, akhirnya jatuh miskin, lalu dinyatakan gerejanya atau yayasannya pailit.


V.     PARA PENGINJIL HARUS MAHIR DALAM “BERTEMPUR”

Penginjilan itu sendiri sudah berarti terjun ke arena peperangan rohani. Sebab penginjilan berarti kita sedang mempergunakan senjata ofensif (menyerang) yaitu pedang Roh, Firman Allah, Injil seutuhnya.
Kita harus memiliki senjata yang tajam. Penginjil harus selalu menajamkan pedangnya. Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya (Amsal 27:12).
Para penginjil dapat belajar dari penginjil lain yang Tuhan pakai lebih dari kita.
Pedang harus diminyaki selalu. Tim penginjilan harus selalu dibaharui urapan Roh Kudus.
Kalau pedang tumpul, penginjilan tidak memakan habis energi, dana, dan publikasi, namun hasilnya sedikit  sekali atau nol.
Penginjil kalau menyerang, harus tidak alpa dengan pertahanannya yaitu perisai, ketopong, baju jirah, dll.
Dari semua daftar persenjataan rohani dalam Efesus 6:13-18, yang tiga kali disebut adalah doa, doa, dan doa.
Kita harus menjadi petempur-petempur yang handal dan mahir menggunakan senjata rohani.
Saya merekomendasikan para penginjil, para gembala sidang, tim penginjilan dan tim pelayanan, untuk membaca buku “Prayer Shield” (Perisai Doa) tulisan Dr. Peter Wagner dan “Pressing The Gates of the Enemy” (Menduduki Kota-kota Musuh) karangan Cindy Jacobs. Suatu buku menarik berjudul “Taking our cities for God. How to break Spritual strongholds, (Merebut Kota bagi Allah) tulisan John Dawson, menguraikan pentingnya belajar “berperang” dan lima langkah menuju kemenangan peperangan rohani.


VI.    PASUKAN DOA

Saya kurang setuju kalau di panitia-panitia gerejawi ada seksi doa. Seksi panitia hanya berkonotasi  pekerjaan tehnis. Padahal doa adalah strategi perang gereja yang hanya dapat dilakukan oleh suatu pasukan petempur rohani.
Gereja zaman akhir ini harus memiliki pasukan doa yang para-komando (seperti marinir, raiders, kopasus, brigade mobil, dll). Karena setan pada akhir zaman tidak lagi berlakon sebagai ular, serigala atau singa mengaum, melainkan sebagai monster binatang naga merah padam yang buas mengerikan. (Wahyu 12:3). Pada akhir zaman terorisme setan mencapai puncaknya yaitu di zaman 3 ½ tahun tribulasi. Antikris menguasai dunia politik, ekonomi dan keuangan, agama, budaya dan militer.
Kita kini harus siap berkonfrontasi tingkat strategis melawan setan. Pasukan-pasukan doa harus dibentuk dan dilatih.
Para gembala sidang harus memiliki kelompok pasukan khusus doa. Para penginjil harus punya pasukan doa.
Tim penginjilan harus solid dan merupakan pasukan doa.
Doa satu jam adalah limit terendah. Pasukan doa harus berdoa berjam-jam dan berpuasa berhari-hari, untuk hasil penginjilan yang signifikan.
Menjangkau kaum Nebayot dan Kedar memerlukan otoritas yang besar.
Okultisme tingkat global harus diperangi dengan jaringan penginjilan dan doa global.
Sebelum dan pada saat penginjilan dilakukan pasukan doa harus lebih berperan. Kita, kata tema GPdI, ingin menuai global tetapi bagaimana mencapainya kalau persiapan hanya sampai tingkat kampung.
Peperangan rohani tingkat strategis dialami Daniel dalam kitab Daniel pasal 10.
Seorang penginjil yang merangkap gembala sidang harus merekrut tentara doa dari dalam sidang jemaat. Penginjil full-time wajib terhisab dalam suatu jemaat lokal, untuk basis dukungan rohaninya. 
Pasukan (istilah lunaknya : Kelompok khusus) Doa bisa terbagi dalam tim-tim atau regu-regu, yang berdoa (berjaga) nonstop 24 jam, siang dan malam, untuk waktu tertentu (satu minggu sampai 21 hari). Menara Doa, bukanlah tower bangunan, tetapi kesiapsiagaan doa baik siang maupun malam, secara beregu.
Doa – Puasa tiga hari secara berkelompok bergilir 21 hari sebelum penginjilan dan sementara penginjilan, kini banyak dilakukan.
Pasukan doa yang combat-ready di dekat panggung penginjil selama penginjilan atau KKR berlangsung sangat efektif mendukung atmosfir bagi Roh Kudus berkarya. 
Kita ingin menyaksikan mujizat-mujizat luar biasa, karena itu doanya harus lebih dari luar biasa.
Juga ada Doa keliling dalam kota, doa keliling dalam arena tempat penginjilan.
Doa-Puasa semalaman lintas gereja untuk suatu revival  besar seperti yang terjadi di Columbia, sungguh diperlukan.
KKR besar Peter Youngren, seperti terjadi di Medan, Bandung, dan kota lain, menggemparkan kaum Kedar. Karena tim yang sudah duluan bergerak.
Kita ingin menyaksikan dalam skala yang lebih besar lagi di masa mendatang.
Penginjil Reinhard Bonke memiliki Tim Pendoa Syafaat yang kuat. 
Peperangan rohani bukan teori atau sistem, tetapi praktek.
Saya pribadi harus mengakui masih “minder” berbicara tentang pasukan doa yang siap tempur.
Tetapi dalam sidang jemaat yang saya gembalakan sudah ada kelompok yang bernama PELDOFAT (Pelayanan Doa Syafaat).
   

VII.   PASUKAN PUJIAN

Barisan musik dan pujian unsur sangat vital dalam proses penginjilan dan peperangan rohani.
Sejarah Benteng Jeriko dirobohkan (Yosua 6) dan Kemenangan spektakuler Raja Yosafat terhadap koalisi Moab, Amon dan Seir (2 Tawarikh 20), adalah contoh-contoh peran signifikan pasukan pujian.
“Worship Team”  (para penyanyi, worship leader dan musisi) harus berada dalam urapan Tuhan. Mereka harus merangkap sebagai pasukan doa. Mereka harus dikhususkan.
Tim Pujian yang kudus dan diurapi menciptakan atmosfir Roh Kudus bekerja.
Penginjil-penginjil terkenal seperti Benny Hinn memiliki Worship Team, Choir dan Musisi yang sepenuhnya full-time.
Jemaat-jemaat yang bertumbuh melalui penginjilan di Korea, di RRT, di Amerika Latin, di Afrika dan kini di India, terkenal memiliki pendoa-pendoa syafaat yang berkomitmen  tinggi dan juga barisan musik dan penyanyi yang terlatih dan mahir.
   

VIII.         PEPERANGAN ROHANI AKAN TERUS MENINGKAT

Iblis sangat paham bahwa waktunya sudah sangat singkat.
Ia beroperasi secara besar-besaran, lebih mentakjubkan manusia, tetapi juga akan sangat mengerikan.
Tetapi gereja Tuhan akan lebih bersinar lagi. Puncaknya dalam Wahyu 12, gereja sempurna berjubahkan cahaya gilang gemilangnya matahari. Sangat mulia dan dahsyat. Mendahului itu revival-revival akan kita alami secara amat perkasa dan gereja akan menuai global. Kemenangan demi kemenangan akan selalu dan pasti terjadi.
“Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya”. (2 Korintus 2:14).
Bagi mereka yang ingin lebih mendalami teologi peperangan rohani saya menganjurkan memiliki buku “The Handbook of Spiritual Warfare” yang disusun oleh DR. Ed Murphy.



ADAKAH SUATU TEOLOGIA PENTAKOSTA?


I.      PENDAHULUAN

Merupakan kehormatan bagi saya diundang memberikan kontribusi dalam Jurnal Teologi Pentakosta, walaupun saya tidak berpretensi memiliki kapasitas teolog dalam konteks ilmuwan.
Keberanian saya memenuhi undangan ini karena sebagai hamba Tuhan, seorang gembala sidang jemaat, sebagai pengajar Alkitab, saya adalah seorang praktisi teologi Alkitabiah. Teologi saya adalah teologi aplikatif, teologi terapan.
Belajar Alkitab adalah way of life dan menjadi prioritas pelayanan saya.
Seperti dikatakan Pastor W.H. Offiler, dalam bukunya “God and His Bible of the Harmonies of Divine Revelation”  yang menjadi acuan utama doktrin Pentakosta di GPdI dan gereja-gereja Pentakosta lainnya di Indonesia :
The study of the Bible, as the word of God, is fascinating in the highest degree, and I have tried to put first, because they have filled the first place in my own mind, and heart. It has been a joyous  and inspiring experience through out the years.”
Sebagai seorang pendeta Pentakosta, saya sering ditanya apakah teologi gereja-gereja Pentakosta itu berbeda dari telogi-teologi lainnya? Pada dasarnya teologi Pentakosta itu tidaklah berbeda dari teologi Kristiani pada umumnya. Di kalangan gereja-gereja Pentakosta belajar teologi Alkitabiah yang benar adalah pertama sekali sebagai satu keyakinan, baru kemudian sebagai suatu disiplin dan sistem. Kita memahami teologi secara integratif, komprehensif, praktis dan dinamis.
Teologi gereja-gereja Pentakosta dipelajari, dimengerti dan diaplikasikan, sehingga teologi yang dipelajari harus dibuktikan dalam penerapan di pelayanan.
Karena itu, kita perlu mengandalkan Roh Kudus, sang Inspirator Agung, yang mengarahkan kita berteologi yang benar dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Tulisan ini merupakan sharing atau berbagi pengalaman tentang prinsip belajar teologi di kalangan umat Kristen Pentakosta dan Kharismatik.

II.   PERSEPSI TEOLOGI YANG LUAS

Teologi atau theologia berasal dari theos dan logos yang bermakna “Allah” dan “kata” atau perkataan. Pengertian singkat teologi sudah terungkap dari etimologinya : “firman Allah” atau “pembicaraan tentang Allah”. Juga disebut “studi Allah” dan “ilmu pengetahuan Allah”. Jadi, teologi adalah hal-hal yang berhubungan dengan KeTuhanan.
Namun, dalam perkembangannya teologi memiliki beraneka ragam defenisi, apalagi kata logos  telah berkembang artinya sebagai ilmu atau pernyataan rasional, sedangkan theos  pun sudah bermakna iman Ketuhanan. Sehingga berbicara tentang teologi, para teolog berhasil meluaskan jangkauan pengertiannya, walaupun tetap ada keterbatasan atau kekhususannya. Untuk bandingan saya angkat beberapa kutipan tentang keragaman defenisi teologi dari beberapa penulis buku tentang teologi.
Millerd Erickson dalam bukunya “Christian Theology” setebal 1300 halaman membuat summary tentang apa itu teologi hanya dalam satu alinea :
“Theology in a Christian context is a discipline of study that seeks to understand the God revealed in the Bible and to provide a Christian understanding or reality. It seeks to understand God’s creation, particularly human beings and their condition, and God’s redemptive work in relation to humankind. Biblical, historical, and philosophical theology provide insights and understandings that help lead toward a coherent whole. Theology has practical value in providing guidance for the Christian life and ministry.”
Kevin Conner dalam bukunya “The Foundations of Christian Doctrinememberi defenisi lebih singkat lagi :
“Theology means the study of God, of religions doctrines and of matters pertaining to Divinity.”
J. Rodman Williams dalam “Renewal Theology mengusulkan defenisi teologi yang sedikit berbeda :
“The contents of the Christian faith as set forth in orderly exposition by the Christian Community.”
Lain lagi ungkapan Stanley J. Grenz dalam “Theology for the Community of God”, ia menulis :
“Theology is primarily the articulation of a specific religious belief system itself (doctrine). But it also well personal and community life”
Semakin banyak kita mengutip, semakin ramai dan luas batasan-batasan teologi. Karena itu saya cenderung menyederhanakan teologi yaitu suatu usaha BELAJAR TENTANG ALLAH DALAM FIRMANNYA.
Pada masa lalu, dengan maraknya teologi liberal, muncul ketidak-percayaan yang mendalam di dalam subkultur Kristen terhadap teologi. Orang tidak percaya lagi para teolog. Khususnya orang-orang Pantekosta. Kaum pentecostals menganggap mayoritas kaum teolog justru menyebabkan gereja kering tak bersemangat, tidak beriman dan menjadi lemah karena para pendeta yang lulusan seminari teologi justru tidak bertobat, tidak lahir baru, tidak diterangi Roh Kudus dan akhirnya cara mereka menafsirkan Alkitab cenderung menyesatkan gereja.
Walter Hollenweger dalam bukunya ”The Pentecostals mengutip bukunya Thomas Wyatt The Birth and Growth of World-Wide Ministry”, sebagai berikut :
“It is most a well known fact that the vast majority of the theologians who preach in the pulpits of the established church have experienced neither conversion, far less biblical sanctification or endowment by the Holy Spirit.”
Walter Hollenweger juga mengakui pendeta-pendeta Pantekosta banyak yang tidak mengikuti seminari teologi tetapi memiliki iman yang hidup kepada Yesus Kristus :
“But the Pentecostal movement consists of people who have mostly been brought by pastors without theologial training, in the course of missions, to have a living faith in Jesus Christ, and have experienced a decisive converstion (repentance) and the ensuing regeneration (John 3).”
Langmead Casserly, seorang apologis Anglican, dalam bukunya “Apologetics & Evangelism mengamati bahwa alasan umat Kristen menjadi semakin tidak percaya kepada teolog-teolog adalah karena mereka memperlihatkan pandangan skeptikisme radikal pada Alkitab dan fakta sejarah kekristenan. Para teolog, menurutnya telah mendeklarasikan kematian Allah. Para dosen seminari dan dosen-dosen Kristen di universitas-universitas malah paling vokal menyerang keabsahan Alkitab.
Sehingga dapat dimengerti mengapa banyak kaum Pantekosta merasa risih dengan teologi, karena ulah kaum teolog liberal, radikal, atau yang menamakan diri teolog modern atau semacamnya, yang telah mencemarkan teologi.
Untuk mengembalikan teologi kepada jalur sebenarnya dan memurnikan kembali teologi yang sudah rancu dengan faham liberalisme, rasionalisme, skeptikisme, sekularisme, dan lain-lain, metoda satu-satunya ialah memulihkan pendidikan teologi Kristen yang murni Alkitabiah dan yang memiliki kuasa (dunamis) Roh Kudus.
Apabila kita mengakui bahwa teologi adalah studi tentang Allah, kita paham betul bahwa Allah adalah Roh. (Yohanes 4:24). Karena itu mempelajari Allah kita memerlukan Roh Kudus. Tanpa dikuasai Roh kita tidak dapat memahami teologi yang benar.
“Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.”
(1 Korintus  2:10).
Ilmu tentang Allah (teologi) apalagi ilmu yang dalam, yang tersembunyi, hanya dapat dipelajari kalau kita memiliki Roh Tuhan.

III.  TEOLOGI PENTAKOSTA = TEOLOGI ALKITABIAH TERAPAN

Adakah suatu teologi Pentakosta? Pertanyaan ini sering diketengahkan.
Tahun-tahun yang lalu ketika saya masih Ketua Umum PGPI, beberapa kali hadir dalam pertemuan Pantekosta-Internasional dan juga di Pentecostal World Conference. Dalam banyak pertemuan gerakan Pentakosta tersebut tidak pernah diciptakan suatu jenis teologi Pentakosta. Namun saya amati, bahwa semua gereja-gereja aliran Pentakosta atau Kharismatik memiliki teologi yang bertajuk : Back to the Bible. Kembali kepada ajaran murni Alkitab. Ajaran tentang Tuhan Yesus Kristus satu-satunya Penyelamat umat manusia, Pembaptis dengan Roh Kudus, Penyembuh segala penyakit dan yang akan datang kembali sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan.  
Kembali kepada ajaran murni Alkitab berarti kita kembali kepada ajaran tentang pertobatan atau lahir kembali, ajaran baptisan dalam air, kepenuhan Roh Kudus dengan bukti berkata-kata dengan bahasa lidah, tentang kesembuhan Allahi dan kelepasan dari kuasa iblis, tentang kehidupan kudus, kehidupan iman, tentang pekabaran injil, tentang keselamatan hanya oleh penebusan darah Kristus, tentang pentingnya perkumpulan ibadah, tentang pujian dan penyembahan, tentang kedatangan Yesus keduakali, tentang membayar persepuluhan, tentang gereja mempelai Kristus, tentang karunia-karunia Roh Kudus, dll. yang kesemuanya bukanlah teologi baru tetapi sekali lagi itu adalah back to the Bible.
Apabila kita belajar teologi dalam kerangka disiplin ilmu kita tentu akan belajar tentang soteriologi, eskatologi, misiologi, sejarah gereja, dan banyak logi-logi lagi. Namun, teologi menurut pemahaman saya harus mencakup 7 prinsip mendasar, yaitu :
1.    Teologi harus Alkitabiah. Yaitu teologi yang sumber utamanya adalah kanonik skriptura Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tidak boleh ditambah atau dikurangi. (Wahyu 22:18-19).
2.    Teologi yang diterangi Roh Kudus. Studi teologi memerlukan iluminasi Roh Kudus. Alkitab pertama-tama adalah buku spiritual, karena ditulis atas inspirasi Roh Kudus. Karena itu, perkara rohani harus diartikan secara rohani pula. (1 Korintus 2:7-16).
3.    Teologi yang sistematika. Pokok-pokok yang variabel diambil dari seluruh Alkitab direlasikan satu dengan yang lainnya membentuk keutuhan yang harmonis.
4.    Teologi juga dengan isu-isu budaya umum dan pendidikan. Termasuk masalah sosial, kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan filsafat sejarah.
5.    Teologi harus kontekstual dan kontemporer. Kendati teologi berhubungan hal-hal yang abadi, namun harus digunakan dalam bahasa, konsep-konsep, format pikiran yang konteksnya masa kini.
6.    Teologi harus menjadi ilmu yang diaplikasikan. Berarti teologi harus menjadi aktual, implementatif. Teologi harus peduli dengan dimensi-dimensi praktis, walaupun juga bukan teologi tentang hal-hal teknis. Teologi orang-orang Pentakosta ialah applied theology.
7.    Teologi harus dipelajari dengan pembaharuan daya nalar. Mempelajari teologi sekedar dengan kemampuan akal, dapat membosankan dan kalau menjadi jenuh, akan tidak efektif. Belajar teologi harus terlebih dulu mengalami proses pembaharuan daya nalar atau pikiran. (Roma 12:2).

IV.  TEOLOGI YANG “DUNAMIS” = TEOLOGI YANG DIGERAKKAN KUASA ROH KUDUS

Teologi Alkitabiah harus menjadi teologi yang “dunamis”. Dunamis bermakna : kuasa, kekuatan, kesanggupan dan daya luar biasa. Rasul Paulus berkata :
“Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi kepada kekuatan Allah.” (1 Korintus 2:4,5).
Belajar teologi kita mendapat ilmu, mendapat pengetahuan, mendapat hikmat. Mengapa di kalangan Pantekosta teolog tidak begitu populer? Karena ternyata sekedar memiliki teologi dan menyandang gelar kesarjanaan teolog, sering membuat orang itu arogan tapi mandul pelayanan. Memiliki gelar sarjana teologi dan berkhotbah dengan istilah-istilah keren, namun jemaat mengantuk mendengarnya. Pandai berdebat, tetapi tidak mampu memenangkan jiwa-jiwa. Mengetahui berbagai dimensi ketuhanan,  tetapi gagal mengusir iblis. Sanggup banyak baca buku, namun malas berdoa dan berpuasa.
Karena itu, kita harus kembali ke proses belajar teologi yang benar, agar teologi digemari dan digrandrungi. Teologi Pentakosta harus bukan sekedar teologi ilmu Alkitab, tetapi lebih dari itu harus dapat dipelajari sebagai suatu teologi Alkitabiah yang hidup, yang penuh kuasa, yang dunamis. Suatu teologi yang mendapat pengurapan Roh Kudus. Suatu teologi terapan yang bersemangat.
Orang-orang Pantekosta musti belajar teologi dari dosen-dosen yang mengetahui  dan meyakini teologi sebagai sesuatu ilmu Allahi dan yang penuh dengan Roh Kudus. Seperti apa yang dipraktekkan di sekolah-sekolah Alkitab Pantekosta, pengajar dan siswa harus bergumul dalam doa dan bahkan berpuasa. Para dosen dan mahasiswa harus terus berdoa agar baik dalam memberi kuliah maupun yang ketika menerima pelajaran berada dalam alam penerangan Roh Kudus. Kalau hanya sekedar belajar teologi, dewasa ini STT-STT menjamur. Orang yang memiliki gelar-gelar teologi makin banyak. Bahkan ada lembaga pendidikan teologi yang ”murah-meriah” memberikan gelar.
Tetapi memahami teologi dunamis berarti belajar teologi Alkitabiah yang berdinamika spiritual sekaligus berdimensi intelektual.
Para teolog gerakan Pentakosta harus lebih pro-aktif memberi kesaksian bahwa teologi Alkitabiah kita adalah teologi terapan yang hidup, yang spiritualistis, yang dapat mempengaruhi pendidikan teologi yang suam untuk bangkit dan hidup. Seperti ditulis oleh pakar peneliti kepentakostaan Walter J. Hollenweger dalam bukunya yang tebal “Pentecostalism, Origins and Developments World Wide”, sbb :
“Since Pentecostalism is now at a turning point, it can release its potential in several areas. For example, it can help the sleepy theological-facultaties and theological colleges (particularly in Europe) once again to become places where religion is not only discussed but lived and analyzed, where thinking and prayer are complementary; where oral theological scholarship and homeletics is discovered and tested; where the prison of prepositional theology (and liturgy) and of Western jargon is broken up:...”

V.   LONJAKAN IPTEK HARUS DIBARENGI LIMPAHAN ILUMINASI ALKITAB

Kita sudah berada di awal abad XXI. Pada akhir abad yang lalu dunia mengalami lompatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa. Dengan super highway information melalui internet, kita sekarang berada dalam kehidupan lompatan teknologi yang dijuluki cyberspace.
Lompatan teknologi akhir abad XX dapat dilihat dengan keberhasilan roket mendarat di planet Mars dan pengkloningan domba di Skotlandia. Sehingga ada ilmuwan yang sudah berani berkata :
“Today a lamb, tommorrow the shepherd”
Kalau dunia iptek telah mendemonstrasikan kemajuannya yang dahsyat, bagaimana dengan ilmu yang menelaah tentang Allah dan FirmanNya, tentang Kasih dan KuasaNya?.
Sebagian teologi gereja-gereja Pantekosta berbasis pada bukunya W.H. Offiler : “God And His Bible or The Harmonies of Divine Relevation”  yang dicetak pada tahun 1946, tetapi sudah diajarkan sejak Sekolah Alkitab di Surabaya tahun 1935. Dalam bukunya itu kita dapat mempelajari hasil iluminasi Roh Kudus yang membuahkan terungkapnya rahasia-rahasia Alkitab yang berjumlah sekitar 90 pokok pelajaran, antara lain : Peta Zaman, Penyingkiran Gereja, 144.000, Minggunya Tuhan, Kedatangan Tuhan Yesus Kedua Kali, Rahasia Besar dan banyak lagi.
Luar biasa iluminasi yang diperoleh Pastor W.H. Offiler. Tetapi tahukan berapa tahun ia bergumul mempelajari Alkitab dengan doa puasa? Saya kutip pengakuan beliau dalam kata pengantar buku tersebut.
“The following course of Bible Study is the result of almost fifty years of deep, intense study of the Bible. It is the result not only of much meditation and holy thought, but of fasting and prayer, in waiting on God”.
Bukunya itu luar biasa! Suatu hasil dari studi Alkitab hampir limapuluh tahun dengan doa puasa serta berdiam diri menunggu Tuhan.
Kita juga mengenal nama-nama seperti W.W. Peterson, F.G. Van Gessel, Kevin Conner, dll yang merupakan sosok-sosok yang Tuhan karuniakan iluminasi yang luar biasa tentang rahasia Alkitab.
Bagaimana dengan kita sekarang. Ada orang-orang yang cuma belajar teologi beberapa bulan, sudah mengaku terima pewahyuan dari Allah. Atau baru kuliah off-campus beberapa minggu sudah membanggakan gelar kesarjanaannya yang dibayar dengan uang, bukan melalui proses belajar yang sungguh.
Kita berharap agar para pendeta Pentakosta memohon iluminasi (penerangan) Rahasia Alkitab yang berlimpah pada zaman ini. Apabila puluhan tahun lalu Roh Kudus mengaruniakan penerangan Alkitab yang luar biasa kepada Pendeta Offiler, Pendeta van Gessel, dll, atau pada para pendeta di Amerika saja, bagaimana di Indonesia? Apakah Tuhan hanya menerangi luar biasa pada masa lalu? Saya yakin Roh Kudus justru berkarya luar biasa dahsyat zaman ini.  
Kalau Tuhan izinkan terjadi lompatan iptek yang dahsyat pada zaman ini, saya percaya Tuhan juga akan membukakan tirai-tirai rahasia dari rencana Allah bagi gerejanya di zaman ini. Namun harganya harus berani kita membayarnya seperti pengalaman pastor W.H. Offiler.
Karena itu sungguh indah apabila kita belajar teologi secara benar sekarang. Waktu-waktu ini saya yakin akan terjadi lonjakan dahsyat pengetahuan tentang rahasia Allah oleh iluminasi Roh Kudus yang berkarya ajaib dua atau tiga kali ganda di zaman ini.
Karena itu, sangat memalukan kalau ada hamba Tuhan Pantekosta hanya belajar teologi beberapa bulan lalu bangga sekali dengan predikat sarjana, master atau doktor., padahal kalau dia berbicara, berkhotbah atau mengajar, orang menilai biasa-biasa saja. Padahal Teologi Alkitabiah justru sesuatu yang luar biasa!

VI.  PELAJAR TEOLOGI SEUMUR HIDUP

Belajar Teologi Alkitabiah bukanlah sekedar belajar suatu disiplin Ilmu, atau belajar sekedar teologi Biblika, tetapi lebih dari itu kita belajar dari ”Ilmu Tuhan”, belajar dari ”Buku Allah”, tetapi lebih dari itu lagi kita sebenarnya sedang belajar dari ”Pribadi Allah”. Dari pikiranNya, rencanaNya, karyaNya, hidupNya, karakterNya, kuasaNya, keberadaanNya, dan banyak lagi. Dan ”Pribadi Allah” adalah sesuatu yang tak terbatas oleh ruang dan waktu. Tuhan itu mahabesar, mahakuasa, mahahadir, dan mahatahu. Tuhan adalah satu-satunya unsur yang mahasempurna di alam semesta raya ini.
Belajar Teologi jauh berbeda dari proses belajar yang lazim kita kenal. Kita bukan sekedar mempelajari, kita mengenal pribadi Allah, bergaul, berdialog dan hidup intim dengan  Dia.
Belajar Teologi adalah proses belajar sekaligus penerapannya seumur hidup. Kita bukan saja serius belajar tetapi yang lebih penting lagi; sungguh-sungguh menerapkannya dalam seluruh dimensi hidup kita dan di sepanjang umur hidup kita.
Seorang insinyur bisa tetap menyandang gelar keinsinyurannya walaupun sehari-hari berpraktik sebagai seorang pebisnis. Seorang dokter bisa tetap memakai gelar dokternya, kendati pekerjaannya bukan dengan pasien yang sakit. Saya mengenal beberapa tamatan akademik yang akhirnya menjadi sales-man, dll. Tetapi tidak demikian bagi lulusan Sekolah Alkitab dan Seminari Teologi di kalangan Kristen Pantekosta.
Seorang teolog, harus seumur hidup menjadi teolog dan terus menerus menerapkan apa yang dipelajarinya dalam hidupnya, dalam keluarganya, dalam pelayanannya, dalam pekerjaannya, dalam semua facet kepribadiannya dan aktivitasnya.
Sekali kita belajar Alkitab, kita akan terus belajar mengenal Allah, mengenal Yesus, mengenal Roh Kudus. Dan pelajarannya seperti tidak akan pernah berakhir, sampai seperti kata Rasul Paulus :
”Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” (I Korintus 13:12b)

VII. PENUTUP

Studi teologi atau belajar Alkitab adalah sesuatu yang luhur, ajaib, indah dan suci. Apapun kerangka acuannya, sistematikanya, metodanya, Alkitab adalah Alkitab, Buku yang agung, kudus, hidup dan kekal, kitab yang adalah firman Allah. Suatu kehormatan bila Tuhan memberi kita kesempatan mempelajarinya, dan berbagi kepada orang lain apa yang telah kita pelajari.
Teologi apapun rumusannya, sepanjang ia berada dalam konteks Alkitab firman Allah, ia adalah ilmu yang layak dan wajib dipelajari. Sepanjang ia adalah teologi yang Alkitabiah, yang Biblical, ia harus menjadi teologi terapan yang powerful, yang dapat menghasilkan perubahan-perubahan signifikan pada orang yang percaya bahkan menciptakan mujizat-mujizat.
Pada akhirnya saya kembali mengutip Pastor W.H. Offiler dalam bukunya “God and His Bible or the Harmonies of Divine Revelation” :
“The age draws to its close, the ‘Time of the End’ is upon us. If ever we needed to know  and  understand the Word of God, it is NOW.
The consumation is at hand, the Book must be opened, as its seals are broken.
The church must know the eternal truth that bas been written, as its fulfilments burst upon us. The time is at hand, Study the Word of God”.
Dewasa ini kita hidup dan melayani di suatu zaman mutakhir yang luar biasa. Ilmu Pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat sekali, mempesonakan. Perubahan dengan gelombang-gelombang yang cepat menerpa planet bumi ini dengan cara-cara memukau.
Alkitab juga sedang dalam tahapan penggenapannya yang akhir dan sempurna, serta sangat menakjubkan. Puji Tuhan! Karena itu saya mendorong kita semua : Teruskan studi Firman Allah, karena seluruh penggenapannya sudah di ambang pintu. Dan sebagai orang-orang Pentakosta dan Kharismatik kita buktikan bahwa teologi yang kita pelajari bukanlah suatu ilmu biasa, tetapi suatu teologi yang berkemampuan mengubah manusia, yang berkuasa mentransformasi suatu komunitas, teologi yang sanggup mengubah nasib suatu bangsa bahkan teologi yang sangat mampu mengaruniakan keselamatan kepada umat manusia.

KEPUSTAKAAN :


1.      Millard, J. Erickson, “Christian Theology”, Baker Books, 1985.
2.      J. Rodman Williams, “Renewal Theology”, Academic Books, 1988.
3.      Stanley J. Grenz, “Theology for the Community of God”, The Patternoster Press, 1994.
4.      Kevin J. Conner, “The Foundations of Christian Doctrine”, Acacia Press Pty, Blackburn Victoria, 1980
5.      Kevin J. Conner & Ken Malmin, “Interpreting The Scriptures”, Bible Press, Portland 1983.
6.      Walter J. Hollenweger, “Pentecostals”, Hendrickson Publisher, 1997.
7.      Walter J. Hollenweger, “Pentecostalism Origins and Developments World Wide”, Hendrickson Publisher, 1997
8.      W.H. Offiler, “God and His Bible or The Harmonies of Divine Revelation”. Bethel Temple Inc. Seattle, Wash, 1946.
9.      J.V. Langmead Casserly, “Apologetics & Evangelism”, Westmenster, Louisville, 1970.

Doktrin Keselamatan

I.         KASIH KARUNIA
Tujuan utama Allah menciptakan manusia yaitu supaya manusia memuliakan Allah melalui penyembahan serta melakukan kehendakNya. Manusia mempunyai tubuh yang elok yang dapat bergerak memuliakan Dia, akal yang tidak terhalangi untuk mengerti kehendakNya, serta roh sebagai makhluk rohani untuk menyembah Dia, karena Dia adalah Roh adanya (Yoh. 4:23-24), bahkan manusia diberikan otoritas oleh Allah untuk mengatur semua ciptaanNya (Kejadian1:28, Mazmur 8:5-7).
Kejatuhan manusia ke dalam dosa karena melawan perintah Allah telah menyebabkan akibat yang mengerikan. Manusia mengalami kematian rohani, menjadi gelap sama sekali dan semua kemuliaan ciptaan Allah lenyap sama sekali. Kata yang tepat untuk manusia untuk kejatuhan adalah “maut”(Roma 6:23). Dosa membuat manusia terpisah dari Allah; ada tempat kekal pemisah manusia dari Allah (Efesus 2:13-14). Istilah “Total Depravity”, yaitu kehancuran total, mengandung pengertian bahwa manusia tidak mempunyai kesanggupan menghampiri Allah (Roma 3:23). Manusia serta seluruh keturunannya “terpisah” dari Allah karena dosa untuk selama-lamanya.
Kasih Karunia, suatu tindakan Allah di dalam kasih untuk menyelamatkan manusia yang telah berdosa. Sebagaimana Adam dan hawa dipakaikan pakaian dari kulit sehingga tidak ada korban darah, demikianlah Kasih Karunia yaitu bahwa Allah, dengan penuh kasih telah mengaruniakan jalan keselamatan melalui pengorbanan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah (Yohanes 1:19, Yohanes 3:16). Kasih Karunia disiapkan Allah Bapa secara cuma-cuma untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa yang membawa kepada maut (Efesus 2:8, I Petrus 1:18-19).
Kata kasih Karunia dalam bahasa Gerika adalah “Charis”, yang berarti suatu pemberian yang bebas tanpa ikatan, dan tidak mengharapkan balasan. Kasih karunia adalah pemberian yang tidak selayaknya diterima umat manusia, tidak pantas diberikan kepada manusia yang berdosa. Kkasih Karunia adalah kenyataan kebesaran kasih Allah yang mengaruniakan keselamatan kepada manusia yang tidak patut lagi menerimanya (Efesus 2:1-9, II Korintus 5:21). Di dalam Kasih Karunia Allah telah menetapkan syarat bersifat mutlak tentang kebenaran keselamatan. Kasih karunia adalah suatu tindakan Allah untuk mendamaikan dirinya dengan manusia melalui penumpahan darah putra-Nya Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2:13-14).
Kasih Karunia adalah suatu anugerah keselamatan manusia yang di rancang Allah do dalam Kasih-Nya. Kasih Karunia Allah adalah suatu suatu wahana yang tidak kelihatan di mana Allah Bapa telah meluaskan isi hati-Nya yang tidak terduga dalam menyelamatkan manusia melalui pengorbanan putra-Nya Yesus Kristus. Hal ini harus dimengerti dengan jelas bahwa dalam Kasih Karunia adalah “Kemurahan Allah” semata-mata dan tidak ada peranan manusia sekalipun di dalamnya (Kolose 2:3-5, I Korintus 2:9-10, Efesus 2:8, Yohanes 3:16).
Kebenaran Keselamatan yang terjadi dalam kasih Karunia Keselamatan yaitu:
1.1  Kebenaran Penebusan. 
Inti dari Kasih Karunia adalah korban Darah Penebusan. Kematian Yesus Kristus sebagai Anak Domba ialah harga penebusan manusia dari dosa, sehingga manusia tidak lagi menjadi hamba dosa, tetapi oleh penebusan darah-Nya maka sekarang menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Allah Bapa oleh kehendak-Nya telah mengorbankan putra-Nya Yesus Kristus, sebagai jalan penebusan untuk menjadi milikNya. Baca: I Petrus 1:18-19, Roma 3:24, I Korintus 6:19-20).
Bayangan penebusan di dalam Perjanjian Lama paling jelas yaitu penebusan satu bangsa Israel dari perhambaan orang Mesir oleh penyembelihan domba paskah. Israel diselmatakan oleh  “Darah Domba Paskah”, bayangan darah Yesus Kristus sebagai Anak Domba (Keluaran 12:1-14).
Kalau dalam Perjanjian Lama kita melihat korban bayangan melalui korban-korban penyembelihan binatang, maka dalam Perjanjian Baru  terjadi penggenapan korban-korban itu di dalam Anak Domba Allah yaitu Tuhan Yesus Kristus. Seluruh dunia telah mendapat anugrah keslamatan oleh korban darah penebusan Yesus Kristus. Tetapi keselamatan itu hanya bagi mereka yang percaya dan menerima penebusanNya (Roma 3:24; I Krointus 6:19-20, Yohanes 3:24).
1.2  Kebenaran Pendamaian 
Kematian Yesus Kristus oleh darahNya, telah mendamaikan manusia dengan Allah. Pelayanan keimamatan dalam Perjanjian Lama sangat menuntut kesucian karena tanpa kesucian tidak ada yang menghampiri Allah. Setiap imam yang melayani harus ada korban darah karena tanpa penumpahan darah, tidak akan ada pengampunan. Korban darah inilah yang telah mendamaikan manusia dengan Allah. Darah Kristus telah menyucikan manusia dari dosa-dosa, sehingga kita mampu menghampiri Allah  karena telah didamaikan oleh darahNya (Efesus 2:13-14, Ibrani 9:22, Keluaran 24:6-8).
Firman Allah berkata bahwa kalau darah domba ataupun lembu pada masa Perjanjian Lama bias menyucikan manusia dan didamaikan dengan Allah, apalagi darah Kristus akan menyucikan orang percaya dan memperoleh kebnaran pendamaian untuk beribadah kepada Allah (Ibarani 9:13-14).
Kita bersyukur bahwa orang percaya yang telah menerima kebenaran pendamaian darah Kristus namun sering jatuh ke dalam dosa, kita selalu beroleh anugrah pengampunan, bukan karena kita tetapi karena kebenaran pendamain darah Kristus (I Yohanes 1:9-10, Efesus 2:13-14, Ibrani 9:13-14). (usahakan membaca ayat-ayat ini).
1.3  Kebenaran Korban Pengganti
Kebenaran pengganti ialah kebenaran kasih karunia Allah untuk menyadari posisi orang percaya. Mestinya bahwa manusialah yang harus mati karena dosa. Kematian Yesus adalah suatu kematian sebagai korban pengganti. Dia tidak mengenal dosa tetapi tyelah dijadikan dosa karena kita, supaya kita mengambil tempatNya dan dibenarkan oleh Allah (II Korintus 5:21). Jadi, Kristus Tuhan yang tidak berdosa telah dijadikan dosa karena kita, jadi pembenaran orang percaya bukan karena perbuatan baik, tetapi karena kita berada di tempatNya Yesus Kristus.
Karena kita, orang percaya sesungguhnya harus diberkati dan memperoleh kemuliaan Kristus, karena sekarang kita telah berada di tempatNya Yesus Kristus. Dia yang adalah kaya tetapi telah menjadi miskin karena kita, supaya oleh kemiskinanNya kita dikayakan dengan kemuliaan Sorgawi (II Korintus 3:9).
1.4  Kebenaran Pemilihan Allah
Kebenaran orang-orang pilihan tidak berdiri sendiri tetapi berada dalam kebenaran kasih Karunia Allah. Inti Kasih Karunia Allah adalah pengorbanan Yesus Kristus untuk keselamatan isi dunia. Allah Bapa telah memilih dan menetapkan Yesus Kristus sebagai pokok pilihan. Yesus Kristus telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu, baru menyatakan diriNyapada akhir zaman. Yesus dipilih sebagai Anak Domba sudah sejak azaz dunia, bahkan sebelum dunia dijadikan (I Petrus 1:20, Wahyu 13:8).
Karena itu, pemilihan Allah sehingga kita dikatakan orang-orang pilihan hanya terjadi di dalam kasih karunia. Yesus Kristuslah yang dipilih Allah Bapa, dan semua yang percaya kepada Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat menjadi etrpilih di dalam Dia. Inilah makna orang-orang pilihan (Efesus 1:3-5, Roma 8:29-30).
Mengapa kita di dalam Yesus Kristus menjadi orang-orang pilihan? Karena orang-orang pilihan adalah yang terpilih untuk memenuhi panggilan melayani Dia. Jadi maksud pilihan Allah adalah supaya kita menggenapi panggilan untuk melayani Dia, dan memberitakan berita keselamatan ke seluruh dunia.
I Petrus 2:9, “…..supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib”.

II. REALISASI  KASIH KARUNIA ALLAH
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Kasih Karunia adalah anugrah Keselamatan  secara Cuma-Cuma dari Allah untuk manusia. Di dalam kasih karunia keselamatan ini yangf ada hanya tindakan kasih Allah semata-mata, dan di sana tidak ada peranan manusia sedikit pun. (Yohanes 3:16, Efesus 2:8).
Kasih karunia yang cuma-Cuma dari Allah merupakan tawaran dari Allah untuk manusia, supaya dapat menerima kasih karunia keselamatan di dalam Tuhan yesus Kristus. Manusia harus membuka hati dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat (I Petrus 2:6-7, Yohanes 3:16, II Petrus 3:9).
Karena itulah keselamatan itu “bersyarat”. Syaratnya ialah manusia harus percaya dan bertobat menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, selanjutnya berjalan melakukan seluruh kehendakNya (Filipi 1:9-11, 2:12, Efesus 4:12-13).
Tadi dikatakan bahwa manusia telah gelap total dan tidak mampu menghampiri Allah. Tetapi Allah memberi anugrah Roh Kudus untuk memimpin serta memapukan orang percaya mengenal kebenaran dan berjalan di dalam kebenaran Allah. Roh Kudus inilah yang menerangi hati dan pikiran kita untuk mengenal kehendak Allah dan orang percaya mampu melakukannya (I Korintus 12:3, I Korintusa 2:9-11, Yohanes 16:13).
Langkah-langkah realisasi keselamatan di Kasih Karunia Allah itu adalah sebagai berikut :
2.1. Pertobatan
      Walaupun kita percaya tetapi tidak menerima dan mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka percaya tersebut menjadi sia-si. Karena itu perjalanan rohani orang percaya di mulai pada waktu pertobatan. Pada waktu kita percaya tetapi belum bertobat maka kita belum memulai perjalanan rohani kita. Namun ketika mengambil keputusan untuk bertobat, pada saat itu kita berbalik belakang ke arah yang berbeda dan memulai perjalanan iman sebagai orang percaya (Markus 1:15, Matius 3:2, Kisah 2:28). Yesus Kristus, Yohanes Pembabtis dan Rasul Paulus berseru, “Bertobatlah, bahwa Kerajaan Sorga telah dekat”.
Jadi, pertobatan ialah titik dimana kita berbalik dari sebelum menuju kepada maut sekarang ke arah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Hal-hal yang terjadi pada waktu bertobat yaitu:
(1)   Dibenarkan (Justified) ; Pada waktu kita bertobat-lah maka inti kasih karunia yaitu pembenaran pekerjaan darah Kristus berlaku pada kita. Darah Kristus inilah yang membuat orang percaya di benarkan oleh Allah Bapa. Bandingkan tanda darah di ambang dan kedua jenang pintu umat Israel pada waktu pembebasan di mesir (Roma 3:24, Keluaran 12:12). Karena darah Kristus dan kebenaranya-lah maka kita menjadi umat-Nya (Ibrani 9:22).
(2)   Kelahiran Baru (Regenerated);  Pertobatan adalah akibat pekerjaan Roh Kudus dan FirmanNya; kita dilahirkan secara rohani. Kelahiran baru yaitu dari keturunan daging yang membinasakan berubah menjadi dilahirkan oleh Roh menjadi manusia rohani yaitu anggota keluarga Allah, perubahan posisi dari manusia ketururnan Adam menjadi manusia Roh di dalam Adam yang kedua yaitu Yesus (I Korintus 15:45-49). Inti kehidupan kita bukan lagi daging yang membinasakan tetapi Firman dan Roh Kudus (Yohanes 3:3-5).
Semua orang di dalam Kristus adalah manusia rohani yang hidup dalam kehendak Allah (Efesus 4:18-19, I Petrus 1:23).
(3)   Menjadi Anak Allah (adopted)
Penebusan menjadi kenyataan pada waktu kita bertobat. Orang-orang percaya diberi hak menjadi anak-anak Allah, dan harus melalui suatu proses dari bayi rohani sampai menjadi dewasa penuh yaitu mengalami kepenuhakan Kristus (Yohanes 1:11-12, Efesus 4:13). Pengalaman pertumbuhan rohani tersebut mewajibkan kita harus dipenuhkan oleh kuasa Roh Kudus, dan memberi hidup dipimpin oleh Roh Kudus (Galatia 5:27). Semua proses tersebut berawal apada waktu bertobat.
2.2. Beriman dan Kekudusan
      Secara menyeluruh, sebenarnya iman itu hanya satu yaitu percaya kepada Tuhan Yesus Kristus oleh Firman Allah. Karena itu, pada kesempatan ini kami tidak membagi tentang macam-macam iman yang diuraikan dalam Firman Allah. Pertobatan ialah suatu peristiwa, sedangkan iman membawa orang percaya ke arah dan sasaran. Begitu orang percaya dan bertobat, maka ia menjadi orang yang beriman. Orang beriman artinya orang percaya dan hidup dengan melakukan semua kebenaran Firman Allah (Roma 1:7, Efesus 4:5, Yakobus 2:17).
      Akibat iman terjadilah pertumbuhan rohani orang percaya yaitu pertumbuhan ke dalam Tuhan Yesus Kristus, sehingga gereja menjadi dewasa dan sempurna. Iman inilah yang membawa orang percaya mengecapi semua kemuliaan Tuhan. Firman Tuhan melimpah dengan janji-janji Ilahi dan semua akan dinyatakan dalam kehidupan orang percaya melalui iman. (Baca Ibrani 11 uraian tentang iman).
      Iman itu adalah suatu kemampuan rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus melalui Firman Allah (Yohanes 16:13, I Korintus 2:10-11).
      Oleh iman kita melakukan semua kehendak Allah, menjadi dewasa rohani, bahkan mengalami kepenuhan Kristus dan juga semakin dalam masuk pada kekudusan Allah. Pertumbuhan rohani yang terjadi oleh iman berjalan bersamaan dengan pengalaman menikmati “kekudusan” Allah (Efesus 4:12-13). Kalau pertumbuhan rohani berhubungan dengan kematangan pengenalan akan kebenaran Allah, maka kekudusan berarti bahwa oreang percaya menikmati sifat dan karakter Allah yang kudus adanya (I Petrus 1:13-16).
      Pertumbuhan rohani dan kekudusan Allah adalah syarat utama untuk menikmati persekutuan dan hadiratNya setiap saat. Puncaknya ialah pernikahan gereja sebagai memepelai perempuan dan Yesus Kristus sebagai mempelai laki-laki  (Wahyu 19:7).

III. MEMELIHARA KESELAMATAN
Keselamatan yang telah di anugrahkan melalui Kasih Karunia Kristus harus dipelihara dengan baik, karena iblis akan berusaha untuk menggagalkan perjalanan iman orang percaya. Kalau kita tidak waspada, maka dapat ditipu oleh iblis supaya kita kembali ke jalan yang lama. Bahkan sebelum kedatangan Tuhan, banyak orang percaya akan murtad dan mengikuti jalan iblis  (II Tesalonika 2:3, I Timotius 4:1, Lukas 8:13).
Karena itu, orang percaya harus dipenuhkan dengan Roh Kudus untuk mendapatkan kekuatan dan bimbinganNya selalu (Galtia 5:24-25).